Kalau kamu sedang berada di posisi ini, Mimin ingin mengajak kamu melihatnya dari sisi yang sedikit berbeda. Tidak diterima setelah interview bukan berarti kamu tidak punya kemampuan untuk bekerja. Proses rekrutmen melibatkan penilaian terhadap kecocokan kandidat dengan posisi dan kebutuhan perusahaan, sementara kandidat biasanya tidak mengetahui seluruh pertimbangan yang digunakan dalam mengambil keputusan.
Jadi daripada terus bertanya, “Saya salah apa?”, lebih berguna kalau kamu mengubahnya menjadi:
“Bagian mana dari proses interview saya yang masih bisa diperbaiki?”
Nah, dari sinilah evaluasi bisa dimulai.
Apakah Gagal Interview Berarti Kamu Tidak Cocok Bekerja?
Belum tentu.
Hasil interview tidak bisa dijadikan kesimpulan bahwa seseorang pasti tidak memiliki kemampuan bekerja. Bisa saja kandidat belum cukup kuat dalam menjelaskan pengalamannya, belum memahami posisi yang dilamar, atau belum mampu memberikan jawaban yang meyakinkan.
Di sisi lain, perusahaan juga dapat mempertimbangkan banyak hal dalam proses seleksi. Kandidat yang sudah mengikuti interview belum tentu otomatis mendapatkan pekerjaan karena masih ada proses penilaian dan perbandingan dengan kandidat lain.
Karena itu, Mimin tidak menyarankan kamu langsung menyimpulkan:
“Saya gagal karena saya tidak pintar.”
Lebih baik gunakan hasil tersebut sebagai bahan evaluasi yang lebih konkret.
Langkah Pertama: Ingat Kembali Jalannya Interview
Jangan langsung mengevaluasi berdasarkan perasaan seperti “tadi kayaknya jelek banget”. Coba ingat kembali apa yang benar-benar terjadi selama interview.
Kalau perlu, tuliskan beberapa pertanyaan yang masih kamu ingat setelah interview selesai.
| Yang Dievaluasi | Pertanyaan untuk Diri Sendiri |
|---|---|
| Pertanyaan | Pertanyaan apa yang paling sulit saya jawab? |
| Jawaban | Apakah jawaban saya benar-benar menjawab pertanyaan? |
| Pengalaman | Apakah saya bisa menjelaskan pengalaman dengan jelas? |
| Posisi | Apakah saya memahami pekerjaan yang saya lamar? |
| Komunikasi | Apakah saya terlalu singkat, terlalu panjang, atau justru keluar dari topik? |
Catatan sederhana seperti ini akan lebih berguna daripada hanya mengingat bahwa “interview tadi rasanya kurang bagus.”
1. Evaluasi Cara Kamu Menjawab Pertanyaan
Salah satu hal yang bisa kamu perbaiki adalah cara menyampaikan jawaban.
Kadang seseorang sebenarnya mempunyai pengalaman yang bagus, tetapi jawabannya terlalu pendek sehingga recruiter tidak mendapatkan gambaran yang cukup.
Contohnya ketika ditanya:
“Ceritakan pengalaman kamu.”
Kemudian jawabannya hanya:
“Saya pernah PKL di perusahaan X.”
Jawaban tersebut belum salah, tetapi masih sangat terbatas.
Kamu bisa menjelaskan secara singkat apa posisi atau kegiatanmu, apa tugas yang dilakukan, dan apa yang kamu pelajari dari pengalaman tersebut.
Tujuannya bukan membuat jawaban menjadi panjang. Justru, jawaban yang baik seharusnya tetap jelas, relevan, dan mudah dipahami.
2. Periksa Apakah Jawabanmu Sesuai dengan Posisi yang Dilamar
Kesalahan yang sering terjadi adalah kandidat menjawab berdasarkan apa yang ingin diceritakan, bukan berdasarkan apa yang sebenarnya ditanyakan atau dibutuhkan dari posisi tersebut.
Misalnya kamu melamar Operator Produksi, tetapi ketika ditanya mengenai pengalaman kerja kamu terlalu banyak membahas aktivitas yang tidak berhubungan dengan pekerjaan produksi.
Coba setelah interview tanyakan kepada diri sendiri:
- Apakah saya memahami jobdesk posisi tersebut?
- Apakah saya mengetahui skill yang dibutuhkan?
- Apakah jawaban saya menunjukkan pengalaman yang relevan?
- Apakah saya memberikan contoh ketika ditanya mengenai kemampuan tertentu?
Semakin kamu memahami posisi yang dilamar, semakin mudah bagi kamu memilih pengalaman yang relevan untuk diceritakan.
3. Cek Kembali Isi CV Kamu
Interview biasanya membuat isi CV menjadi bahan pembicaraan. Karena itu, jangan sampai ada bagian CV yang kamu sendiri kesulitan menjelaskannya.
Misalnya kamu mencantumkan:
“Menguasai Microsoft Excel.”
Kemudian recruiter bertanya:
“Excel biasanya kamu gunakan untuk apa?”
Kalau kamu hanya pernah menggunakan Excel untuk hal yang sangat dasar, jangan menggambarkan kemampuanmu seolah-olah sudah menguasai Excel tingkat lanjut.
Hal yang sama berlaku untuk mesin, software, bahasa, sertifikasi, maupun pengalaman kerja.
CV dan jawaban interview sebaiknya konsisten.
4. Apakah Kamu Bisa Menjelaskan Pengalaman dengan Contoh Nyata?
Jawaban seperti “saya orangnya bertanggung jawab” atau “saya bisa bekerja dalam tim” memang terdengar positif.
Tetapi jawaban akan lebih mudah dipahami jika kamu mempunyai contoh yang mendukung.
Misalnya ketika ditanya tentang teamwork, kamu dapat menceritakan pengalaman bekerja bersama anggota tim dalam tugas sekolah, organisasi, PKL, pekerjaan sebelumnya, atau kegiatan lain yang memang pernah kamu jalani.
Jangan membuat cerita hanya agar jawaban terlihat bagus. Gunakan pengalaman yang benar-benar pernah kamu alami.
5. Evaluasi Pengetahuanmu tentang Perusahaan dan Posisi
Sebelum interview, setidaknya kamu perlu mengetahui perusahaan dan posisi yang kamu lamar.
Bukan berarti kamu harus menghafal seluruh sejarah perusahaan.
Yang lebih penting adalah memahami hal-hal dasar seperti:
- Perusahaan bergerak di bidang apa.
- Posisi yang kamu lamar bertugas melakukan apa.
- Skill apa yang kemungkinan dibutuhkan.
- Lokasi kerja.
- Persyaratan utama pada lowongan.
Informasi tersebut membantu kamu memberikan jawaban yang lebih relevan ketika recruiter menanyakan alasan kamu melamar atau apa yang kamu pahami tentang posisi tersebut.
6. Jangan Langsung Menganggap Semua Kesalahan Ada di Kamu
Ini juga penting.
Setelah gagal interview, sangat mudah bagi kandidat untuk mencari satu kesalahan lalu menganggap itulah penyebab utama dirinya tidak diterima.
Misalnya:
“Kayaknya saya salah menjawab pertanyaan tentang gaji.”
Atau:
“Mungkin karena saya kurang percaya diri.”
Bisa saja hal tersebut memang perlu diperbaiki. Tetapi tanpa informasi dari perusahaan, kamu tidak bisa memastikan bahwa satu hal tersebut merupakan penyebab kamu tidak lolos.
Karena itu, gunakan istilah “kemungkinan yang perlu diperbaiki”, bukan langsung menyimpulkan “inilah penyebab saya gagal.”
Cara berpikir seperti ini membuat evaluasi kamu lebih objektif.
7. Perhatikan Pertanyaan yang Membuat Kamu Gugup
Coba ingat pertanyaan mana yang membuat kamu paling tidak siap.
Misalnya:
- “Ceritakan tentang diri kamu.”
- “Kenapa tertarik dengan posisi ini?”
- “Apa kelebihan dan kekurangan kamu?”
- “Berapa ekspektasi gaji kamu?”
- “Kenapa kami harus memilih kamu?”
- “Apakah bersedia bekerja shift?”
Jangan hanya menghafalkan jawaban untuk pertanyaan tersebut.
Lebih baik pahami informasi apa yang ingin kamu sampaikan sehingga ketika pertanyaannya sedikit berubah, kamu tetap bisa menjawab dengan natural.
8. Latihan Interview, Tapi Jangan Sampai Terdengar Menghafal
Latihan memang membantu, terutama bagi kamu yang baru pertama kali mengikuti interview.
Tetapi Mimin tidak menyarankan menghafalkan jawaban kata demi kata.
Kenapa?
Karena pertanyaan recruiter bisa berubah. Kalau kamu menghafalkan satu paragraf, sedikit perubahan pertanyaan saja bisa membuat kamu kehilangan arah.
Lebih baik siapkan poin-poin utama.
Contohnya untuk pertanyaan “ceritakan tentang diri kamu”, siapkan:
- Nama dan latar belakang singkat.
- Pendidikan atau pengalaman relevan.
- Skill yang berhubungan dengan posisi.
- Alasan tertarik melamar.
Kemudian latih cara menyampaikannya dengan bahasa sendiri.
9. Evaluasi Jawaban tentang Ekspektasi Gaji
Pertanyaan mengenai gaji cukup sering membuat kandidat bingung.
Masalahnya bukan karena ada satu angka yang pasti benar untuk semua pekerjaan. Besaran gaji dapat dipengaruhi oleh posisi, wilayah, pengalaman, perusahaan, struktur upah, dan berbagai faktor lain.
Karena itu, jangan membuat kesimpulan bahwa kamu pasti gagal hanya karena menyebut angka tertentu.
Yang bisa kamu evaluasi adalah apakah kamu sudah mengetahui kisaran yang masuk akal untuk posisi dan wilayah tersebut, serta apakah jawabanmu disampaikan dengan wajar dan terbuka untuk dibicarakan sesuai kebijakan perusahaan.
10. Perbaiki Bagian yang Memang Bisa Kamu Kendalikan
Setelah gagal interview, jangan mencoba memperbaiki sesuatu yang sebenarnya tidak kamu ketahui.
Fokus pada hal yang bisa kamu kendalikan.
| Bisa Kamu Perbaiki | Caranya |
|---|---|
| Pemahaman posisi | Baca kembali jobdesk dan kualifikasi. |
| Jawaban interview | Latihan menjawab berdasarkan pengalaman nyata. |
| CV | Pastikan informasi akurat dan relevan. |
| Pengetahuan perusahaan | Pelajari informasi dasar sebelum interview. |
| Komunikasi | Latihan menyampaikan jawaban secara jelas dan tidak bertele-tele. |
Sementara itu, hal seperti kandidat lain yang lebih sesuai, keputusan internal perusahaan, atau pertimbangan yang tidak disampaikan kepada pelamar bukan sesuatu yang bisa kamu pastikan dari luar.
Bagaimana Kalau Sudah Berkali-kali Interview tetapi Tetap Gagal?
Kalau baru sekali gagal, jangan buru-buru mengubah seluruh cara kamu mencari kerja.
Tetapi kalau kamu sudah beberapa kali mengikuti interview dan pola masalahnya terasa sama, evaluasi yang lebih serius mungkin memang diperlukan.
Coba buat catatan sederhana setiap selesai interview:
| Catatan | Isi |
|---|---|
| Posisi | Posisi yang dilamar |
| Pertanyaan sulit | Pertanyaan yang belum bisa dijawab dengan baik |
| Jawaban | Bagian yang perlu diperbaiki |
| Persiapan | Apa yang kurang dipelajari sebelum interview |
| Perbaikan berikutnya | Satu atau dua hal yang akan diperbaiki |
Setelah beberapa interview, kamu mungkin mulai melihat pola. Misalnya selalu kesulitan ketika menjelaskan pengalaman, selalu bingung menjawab pertanyaan teknis, atau kurang memahami posisi yang dilamar.
Nah, pola seperti itulah yang lebih layak kamu perbaiki.
Haruskah Menghubungi HR untuk Menanyakan Alasan Tidak Lolos?
Kamu boleh menanyakan feedback dengan cara yang sopan jika situasinya memungkinkan, tetapi jangan menganggap perusahaan wajib memberikan alasan detail mengenai keputusan seleksi.
Kalau kamu ingin bertanya, gunakan komunikasi yang singkat dan profesional.
Tujuannya bukan untuk memperdebatkan keputusan perusahaan, melainkan meminta masukan apabila memang bersedia diberikan.
Kalau tidak mendapatkan feedback, kamu tetap bisa melakukan evaluasi berdasarkan pengalaman interview sendiri.
Jangan Menunggu Satu Perusahaan Saja
Setelah mengikuti interview, tetap lanjutkan pencarian kerja.
Jangan menghentikan semua lamaran hanya karena kamu merasa interview di satu perusahaan berjalan sangat baik.
Selama belum menerima keputusan atau offering resmi, posisi kamu sebagai kandidat masih belum pasti.
Mimin justru menyarankan kamu tetap mencari lowongan lain yang sesuai. Dengan begitu, kamu tidak terlalu menggantungkan seluruh harapan pada satu proses rekrutmen.
Checklist Evaluasi Setelah Gagal Interview
Sebelum mengikuti interview berikutnya, coba cek beberapa hal ini:
- Apakah saya sudah membaca kembali jobdesk?
- Apakah saya memahami kualifikasi yang diminta?
- Apakah saya bisa menjelaskan isi CV saya sendiri?
- Apakah saya mempunyai contoh pengalaman yang relevan?
- Apakah saya bisa menjelaskan alasan melamar?
- Apakah saya sudah mencari informasi dasar tentang perusahaan?
- Apakah saya mengetahui skill yang berhubungan dengan posisi?
- Apakah saya sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan umum?
- Apakah saya terlalu menghafalkan jawaban?
- Apakah saya mempunyai pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada interviewer?
Kalau sebagian besar jawabannya sudah “iya”, kamu tidak perlu mengubah semuanya. Fokus saja pada bagian yang masih terasa lemah.
Kesimpulan
Gagal setelah interview memang tidak menyenangkan, tetapi satu hasil seleksi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kamu tidak mampu mendapatkan pekerjaan.
Daripada terus memikirkan “kenapa saya tidak diterima?”, lebih baik gunakan pengalaman tersebut untuk mencari hal-hal yang memang bisa diperbaiki.
Mulai dari cara menjawab pertanyaan, kemampuan menjelaskan pengalaman, pemahaman terhadap posisi, konsistensi isi CV, sampai persiapan sebelum interview.
Yang juga penting, jangan membuat kesimpulan berdasarkan dugaan. Kamu tidak selalu tahu alasan sebenarnya perusahaan memilih kandidat lain. Evaluasi sebaiknya difokuskan pada hal yang memang kamu alami dan bisa kamu perbaiki.
Jadi, kalau hari ini kamu baru saja gagal interview, tidak perlu langsung menganggap semuanya berakhir.
Catat pertanyaannya. Ingat bagian yang membuat kamu kesulitan. Perbaiki jawabannya. Lalu gunakan hasil evaluasi tersebut ketika mendapat kesempatan interview berikutnya.
Karena tujuan evaluasi bukan mencari siapa yang salah, tetapi membuat kamu lebih siap ketika kesempatan berikutnya datang.
FAQ Seputar Gagal Interview Kerja
1. Kenapa sudah dipanggil interview tetapi tidak diterima?
Dipanggil interview berarti kamu sudah masuk ke tahap seleksi lebih lanjut, tetapi bukan jaminan akan diterima. Keputusan akhir dapat dipengaruhi oleh penilaian selama proses seleksi dan kesesuaian kandidat dengan kebutuhan posisi. Tanpa feedback dari perusahaan, kamu tidak bisa memastikan satu alasan tertentu sebagai penyebabnya.
2. Apakah gagal interview berarti saya tidak cocok dengan pekerjaan tersebut?
Tidak selalu. Gagal dalam satu proses interview tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kamu tidak cocok bekerja di bidang tersebut. Yang lebih berguna adalah mengevaluasi bagian interview yang masih dapat diperbaiki.
3. Apa yang harus dilakukan setelah gagal interview?
Catat kembali pertanyaan yang masih kamu ingat, evaluasi jawaban yang terasa kurang, periksa kembali pemahamanmu terhadap posisi, lalu perbaiki persiapan untuk interview berikutnya. Kamu juga tetap bisa melamar pekerjaan lain yang sesuai.
4. Apakah boleh bertanya kepada HR kenapa saya tidak diterima?
Boleh menanyakan feedback secara sopan jika situasinya memungkinkan. Namun, perusahaan tidak selalu memberikan penjelasan detail mengenai keputusan seleksi. Jika tidak mendapatkan feedback, lakukan evaluasi berdasarkan hal-hal yang bisa kamu amati sendiri.
5. Kalau sudah berkali-kali gagal interview, apa yang harus diperbaiki?
Coba cari pola dari beberapa interview yang sudah kamu jalani. Perhatikan apakah kamu selalu kesulitan menjawab pertanyaan tertentu, menjelaskan pengalaman, memahami posisi, atau menyampaikan jawaban secara jelas. Fokus memperbaiki pola masalah yang memang berulang.
6. Apakah saya harus mengubah CV setelah gagal interview?
Belum tentu. Periksa terlebih dahulu apakah isi CV sudah akurat, relevan, dan bisa kamu jelaskan ketika interview. Jika ada informasi yang terlalu umum atau tidak sesuai dengan kemampuan sebenarnya, barulah pertimbangkan untuk memperbaikinya.
7. Apakah harus berhenti melamar pekerjaan setelah mendapat panggilan interview?
Tidak. Selama kamu belum mendapatkan keputusan atau offering resmi, tetap mencari dan melamar pekerjaan lain merupakan langkah yang lebih aman. Jangan menggantungkan seluruh pencarian kerja pada satu perusahaan.
8. Berapa kali gagal interview masih dianggap wajar?
Tidak ada jumlah tertentu yang bisa dijadikan patokan bahwa seseorang “terlalu sering” gagal interview. Setiap orang memiliki kondisi, pengalaman, dan target pekerjaan yang berbeda. Yang lebih penting adalah apakah setiap proses memberikan pelajaran yang bisa digunakan untuk memperbaiki proses berikutnya.
9. Apakah jawaban interview harus dihafalkan?
Tidak perlu menghafalkan jawaban kata demi kata. Lebih baik pahami poin yang ingin kamu sampaikan dan latih cara menjelaskannya dengan bahasa sendiri. Dengan begitu, jawaban biasanya lebih fleksibel ketika pertanyaan recruiter berubah.
10. Apa hal terpenting yang harus dilakukan sebelum interview berikutnya?
Pastikan kamu memahami posisi yang dilamar, membaca kembali CV, menyiapkan contoh pengalaman yang relevan, mempelajari informasi dasar perusahaan, dan berlatih menjawab pertanyaan umum. Fokus pada persiapan yang memang bisa kamu kendalikan.
Catatan Mimin: Setiap perusahaan memiliki proses dan pertimbangan rekrutmen yang berbeda. Karena alasan kandidat tidak diterima tidak selalu disampaikan secara rinci, hindari menganggap satu faktor sebagai penyebab pasti kegagalan tanpa informasi yang mendukung.

0 Komentar